Sepatu dan Novelnya, Menjadi Motivasi Dasar Bagi Para Siswa/i
Kementrian Sosial (Kemensos) sedang dipelototi KPK. Dengan gercep (gerak cepat) menterinya klarifikasi. Bahwa pengadaan sepatu untuk Sekolah Rakyat, dalam tahap evaluasi. Pasalnya pengadaan sepatu tersebut, menjadi sorotan publik. Karena nilainya yang begitu fantastis 27,54 miliyar. Untuk 39.354 siswa. Klarifikasi pun tidak sepenuhnya diterima oleh publik. Langkah selanjutnya Menteri Kemensos ditemani Wamennya, sowan ke kantor KPK. Melakukan upaya mitigasi dan pencegahan korupsi. Kemensos seakan mengambil posisi sebagai korban. Mengingat anggaran dalam Kementrian tersebut membengkak setiap tahunnya. KPK diberikan tawaran sebagian mitra. Dalam memantau dan memberikan kritik terhadap program startegis pemerintah. Tentunya yang direalisasikan oleh Kemensos.
Sinergitas yang dibangun Kemensos dengan KPK, seakan menjadi upaya reaktif yang terkesan “merangkul KPK”. Jauh sebelum isu penggelembungan dana pengadaan sepatu ini menguat. Berawal dari foto dokumentasi pembagian sepatu oleh Menteri Sosial dan Gubernur Jawa Timur. Beredarnya foto tersebut, menjadi pemicu menguaknya proyek sepatu sekolah rakyat. Menteri Sosial pun mengelak, sepatu tersebut bukan diperuntukkan dari program Kemensos. Melainkan bantuan dari Gubernur Jawa Timur.
Sepatu tersebut tampak berjenis kets. Memiliki kulit berawarna hitam, dengan sol berwarna putih. Logo brand terpampang pada sisi kanan dan kiri. Sepatu dengan brand lokal tersebut diduga diproduksi di Surabaya. Namun si pemilik pabrik, mengklarifikasi tidak terlibat dalam program pengadaan sepatu dari Kemensos. Nasib sepatu untuk siwa Sekolah Rakyat hingga kini masih simpang siur. Memang sepatu merupakan pelengkap dalam seragam sekolah. Dengan mengenakan sepatu, para siswa dapat memupuk semangat. Berangkat menuju sekolah, guna menimbah ilmu.
Berbanding terbalik dengan era dahulu, tidak perlu ada sepatu. Dengan telanjang kaki, murid – murid melangkah hingga berlari menuju sekolah. Hal ini teringat pada masa kecil Dahlan Iskan. Hidup dalam kondisi kemiskinan yang ekstrim. Membuat ia tidak berbuat banyak. Cita-cita, cinta, dan semangat terus ia genggam. Demi mendapatkan sepatu terbaik untuk bersekolah. Keterbatasan tidak membuatnya ringkih dan terpuruk. Ia menyikapi keterbatasan sebagai pemacu semangat. Ini merupakan bagian cerita masa kecil Dahlan Iskan. Yang ia tuangkan dalam novel berjudul “Sepatu Dahlan”. Hingga cerita tersebut, diadopsi dalam sebuah film. Terinspirasi dari novel dengan judul yang sama.
Kesuksesan Dahlan Iskan menjadi tokoh media. Tidak terlepas dari semangatnya yang ia pupuk semasa kanak – kanak. Hingga ia bersikukuh, merealisasikan inisiatifnya membuat brand sepatu merek “DI 19”. Hal tersebut bukan sebatas gagasan. “DI 19” merupakan satu diantara pelopor kebanggaan produk dalam negeri. Hal ini didefinisikan pada “DI” akronim dari Demi Indonesia. Angka 19 mewakili jumlah huruf basmalah. Dalam merealisasikan pengadaan sepatu untuk Sekolah Rakyat. Kemensos harus memahami, kebutuhan mendasar dari setiap siswa. Apa lagi siswa – siswi Sekolah Rakyat, merupakan tunas bangsa yang kelak mengisi peran vital. Dikala memasuki era generasi emas. Semoga klarifikasi Mensos benar adanya. Praktik penggelembungan biaya pengadaannya dinyatakan nihil. Sebagai catatan, hal yang memungkinkan terjadi jika sepatu yang diberikan dilengkapi dengan novel “Sepatu Dahlan”. Tentunya siswa-siswi akan lebih bahagia, sepatunya dikenakan, novelnya dibaca sebagai motivasi.


