El Nino Tidak Menimbulkan Api, Tetapi Api Tetap Membutuhkan Pemicu
El Nino menjadi kambing hitam yang paling hitam. Terutama Kemenhut. Menyudutkan El Nino, sebagai biang penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Karhutla semakin mencekam, merambah hingga wilayah konsensi. Mirisnya proses mitigasi acapkali fokus pada pemadaman. Namun lemah pada pencegahan.
Pelbagai pakar juga telah memberikan penegasan. Bahwa aktivitas manusia, yang menjadi dominasi penyebab Karhutla. El Nino, sebatas penunjang dalam penyebaran titik kebakaran. Praktik pembukaan lahan dengan cara “tebas bakar”, masih menjadi primadona. Metode alternatif yang dinilai super efesien tersebut. Dibaliknya memboyong dampak yang begitu rawan dalam hal penyebaran titik kebakaran.
Butuh kolaborasi besar, dalam memadamkan Karhutla. Adapun bentuk partisipasi yang berperan melalui jalan religius. Mengalami musibah, memang waktu yang tepat bersandar pada Tuhan. Jika Tuhan berkehendak, maka akan menginstruksikan malaikat untuk menurunkan hujan. Di Jakarta pada 31 Agustus ’26, kemarin. Ribuan orang melakukan salat berjamaah meminta hujan. Salat Istiqa’. Digelar di halaman masjid Al-Azhar, Jakarta.
Mungkin pertolongan Tuhan bukan menjadi yang sakral di Tiongkok. Karena problem kekeringan yang berkepanjangan, Tiongkok berharap pada diri sendiri. Murni dari arahan ilmuwan, yang menjadi program pemerintah. Tiongkok menjadi negara yang sering, membuat hujan buatan. Negeri Tirai Bambu itu, berupaya mengubah lahan yang tandus. Menjadi kawasan produktif untuk pertanian dan perkebunan.
Bahkan keberhasilan Tiongkok dalam merekayasa cuaca. Dipamerkan saat gelaran Olimpiade Beijing 2008 lalu. Bukan hanya pandai membuat hujan. Tiongkok juga lihai dalam menjinakkan cuaca. Hal tersebut sukses dilakukan sepanjang Olimpiade Beijing berlangsung.
Walaupun semboyannya “God Bless America“, rupanya Amerika juga tidak bergantung pada “God-nya”. Perihal meminta hujan. Amerika menaruh harapan besar pada Vincent J. Schaefer dan Irving Langmuir. Bagi ilmuwan, hujan tidak turun dari langit. Karena benih – benih hujan, tidak timbul dari langit. Ilmuwan secara konsisten menganalisis kapan hujan, seberapa tingkat lebatnya hujan, dan di mana hujan akan turun.
Perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin cepat. Hujan buatan juga kian masif diturunkan. Perak dan yodium, menjadi bahan mujarab dalam menurunkan hujan. Negara-negara besar dan tangguh, dapat mengelola bahan tersebut menjadi hujan. Indonesia memiliki tambang perak, tapi yodiumnya harus impor dari Jepang atau Chili. Air laut memang asin, tapi kadar yodiumnya ringan.
United Emirat Arab (UEA) , tidak memiliki tambang perak dan yodium. Tapi bisa menurunkan hujan. Tergolong pula, menjadi negara yang sering menurunkan hujan buatan. Meski UEA memiliki Tuhan yang sama dengan Indonesia. Tapi mereka lebih punya uang. Hujan buatan membuat UEA optimis, merubah padang pasir menjadi lahan perkebunan.
Bukan karena tidak memiliki tambang yodium, Indonesia tidak bisa menurunkan hujan buatan. Indonesia sangat bisa, jika menangani karhutla menjadi skala prioritas. Membuat hujan buatan, dapat menelan anggaran 2 triliun rupiah. Hanya meliburkan dapur SPPG se-Indonesia selama kurang lebih separuh bulan. Namun apa daya, Istana Negara lebih memilih kucing daripada kecebong. Kucing takut air, sedangkan katak riang sekali saat hujan turun. Terkadang rindu suara katak yang bernyanyi di pelataran Istana Negara. Dikala musim hujan tiba.


