Jika Kebiadaban Ini Tak Terbendung, Dipastikan Piala Dunia 2026 Berlangsung Tanpa Esensi
Iran berkabung 40 hari kedepan. Berduka atas syahid (meninggalnya) pemimpin agung, Ali KhamEnei. Ali Khamenei menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, atas ulah serangan udara gabungan AS – Israel. Sejumlah rudal menghujani kompleks kediaman Ali Khamenei.
Rahbar (dalam bahasa Persia, bermakna pemimpin) bersama keluarganya, meninggal (syahid) di tempat kejadian. Bukan hanya masyarakat Iran, umat muslim sedunia memaknai sebagai syahadah. Bukan kabar duka semata. Melainkan kematian yang lebih bermakna dari pada kelahiran.
Sorak sorai menyelimuti Washington. Egoisme Trump semakin memuncak. Gugurnya Ali Khamenei, dianggap sebagai kesuksesan. Lebih dari keberhasilannya menculik Maduro. Begitu pun memporak-porandakan Meksiko. Dibalik peran Trump yang sedang unjuk gigi di panggung global. Acapkali diingatkan oleh oposisinya (politikus Demokrat). Dia sudah terlalu jauh, memantik perang dunia.
Statusnya sebagai presiden AS, dijadikan kendaraan. Walaupun kebijakan Trump, secara konkrit yang mengerahkan militer AS menginvasi Iran. Realitanya tidak ada dukungan penuh dari rakyat AS. Trump memang Trump. Egonya berbanding lurus dengan superioritasnya.
Mungkin Trump lupa, bahwasanya bukan hanya AS yang menjadi polisi dunia. Rusia dan Tiongkok. Kedua negara tersebut memiliki andil sebagai Dewan Keamanan PBB di dunia. Dari segi militer yang dimiliki setiap negara tersebut. Mampu menandingi alutsista AS.
Sikap Rusia dan Tiongkok, sedang ditunggu dunia. Kedua negara itu, menjadi faktor penentu. Yang mampu mengakhiri konfontrasi militer AS – Israel untuk Iran. Kedua negara kuat itu pula, diketahui memiliki hubungan dekat dengan Iran.
Peran Rusia dan Tiongkok bukan sebatas koalisi balasan untuk Iran. Lebih dari itu, mereka harus membatasi ruang gerak militer AS – Israel. Gabungan serangan AS – Israel, bukan hanya mendaratkan rudal di rumah Ali Khamenei. Melainkan juga sebuah sekolah, yang menewaskan puluhan murid. Sangat jelas ini merupakan kejahatan perang.
Bagi Rusia, segera mengerahkan kekuatan militernya menuju Timur Tengah. Urusan bertempur lawan Ukraina. Ibarat bermain catur cukup diselesaikan dengan tiga pion, dan satu kuda.
Untuk Tiongkok, tarik pasukan yang sedang berlatih di sekitar Taiwan (negara koloni AS). Sudah waktunya, latihan yang bertajuk “Misi Keadilan 2025”. Harus direalisasikan pada 2026.
Sikap Rusia dan Tiongkok, bukan sekedar diplomasi strategis dalam kemitraan Iran. Melainkan kemanusiaan. Dunia sangat menantikan peran Rusia dan Tiongkok. Gugurnya Ali Khamenei, mencerminkan bahwa tidak ada negara yang paling kuat di dunia. Kekuatan harus terbagi. Sehingga tidak berlangsungnya dominasi, yang mengatasnamakan negara adidaya. Keseimbangan geopolitik global, kini sedang dipertaruhkan.
Jika kekuatan Zionis terus disokong Pentagon, tanpa ada perlawanan sepadan yang didukung kekuatan lainnya. Dunia akan menjadi panggung tinggal Washington. Jika Putin dan Xi tetap diam. Trump semakin jemawa, bukan hanya pada nada bicaranya. Selebihnya jika Trump semakin kuat, niscaya apapun yang tidak sejalan dengannya akan ditabrak. Semisal dia menciptakan ketegangan dengan Vatikan. Apa boleh buat, mengenai nasib pimpinan negara tersebut. Diculik dengan operasi militer senyap. Atau gugur atas daftar keberhasilan yang dicatat oleh Trump.


