Akal Sehat Yang Menghalau Angin Lexus (Lesus)
Jika masih hidup, jenderal Soedirman sangat bersedih. Nama besarnya yang tercatut sebagai nama Universitas, telah dinodai. Jika itu realitanya, jenderal Naga Bonar pun juga berkata “Apa Kata Dunia!”. Menelaah tentang praktik culas beberapa oknum petinggi Universitas Jenderal Soedirman. Kondisi dan situasi Universitas Jenderal Sudirman (Unsoed) menyita perhatian publik akhir – akhir ini. Sorotannya begitu silau, hampir meredupkan kabar terkini bencana karhutla.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), gerak cepat mengamankan Rektor, Wakil Rektor III, Kepala bagian Akademik, hingga beberapa pihak swasta. Operasi Tangkap Tangan (OTT) , direalisasikan dengan tepat dan rapi. Pemerasan dan gratifikasi dalam proses penerimaan mahasiswa baru (Maba), menjadi dalih di balik OTT tersebut. Penerimaan Maba dalam jalur mandiri. Rupanya masih menjadi celah dalam menjalankan praktik korupsi.
Begitu gamblangnya para tersangka, mencederai proses penerimaan Maba. Dikaitkan dengan pelaksanaan proyek pengadaan kanopi dan renovasi kantin. Pemerasan yang terjadi, dibalik tawaran “menjanjikan“ calon mahasiswa masuk dalam bangku kuliah Fakultas Kedokteran. Naasnya janji tersebut berlalu seperti fatamorgana. Uang pemerasan telah ludes, calon mahasiswa tersebut tidak lolos. Usut punya usut, proyek pengadaan dan renovasi menjadi penutup lubangnya. Mirisnya dari keseluruhan aktivitas itu, Rektor Unsoed terlibat.
Akademik telah dihardik. Akademisi terobsesi dengan komisi. Lantas apakah problematika yang terjadi ?, hasil dari pergeseran peran perguruan tinggi. Tunduk pada mekanisme pasar. Alhasil kapitalisasi menjadi cara yang ampuh. Ironinya industri gelar akademik, terus memproduksi sarjanawan/wati. Guna memenuhi kebutuhan pasar, yang ditempa dengan jerat bursa lowongan kerja. Tidak kah itu penting, semula Perguruan Tinggi menjadi wahana untuk memacu kreativitas dan profesionalisme. Banting setir menyesuaikan navigasi yang mengarahkan pada titik karam.
Sebuah ironi, lembaga yang seharusnya memiliki daya dalam negosiasi. Seakan dilucuti oleh oknum yang mengebiri esensi Perguruan Tinggi. Seakan Perguruan Tinggi tunduk pada mekanisme pasar. Padahal jika mempertahankan esensinya, Perguruan Tinggi harusnya memiliki peran yang begitu besar. Besar dalam menentukan navigasi perjalanan sebuah peradaban. Menjernihkan aliran kehidupan yang keruh. Meluruskan jalan kehidupan yang bengkok. Menjernihkan dan meluruskan, semanya dilandasi sifat ilmiah. Nyatanya saat ini hanya komedi, yang layak disebut ilmiah. Komedi menjadi kesimpulan. Atas dasar problematika yang ada.
Komedi tetap menjadi jawabannya. Dikala Presiden mengalami keseleo lidah. Komedi menguatkan presepsi dari upah pengupas bawang 700.000/kg. Melemahkan keberhasilan pemerintah mengamankan puluhan ribu hektar lahan sawit yang ilegal.
Fenomena OTT di ranah Perguruan Tinggi, menjadi tinjauan yang harus diarsipkan. Sebagaimana mewujudkan pengingat, bahwa nihilnya integritas akademisi. Seakan melucuti peran strategis Perguruan Tinggi dalam menegakkan Tri Dharma.
Kembali lagi, komedi hanya suguhan untuk jedah, dan terkadang bersifat semu. Ingat diatas komedi masih ada akal sehat. Dengan merangkaknya headline di pelbagai media saat ini. Akal sehat berhasil menghalau angin lexus. Demokrasi (one man, one vote), menjadi produk usang dan tidak berlaku lagi di Muktamar satu diantara Organisasi Islam terbesar di dunia.


