Tulisan Ini Bukan Membahas Alibi Trump, Yang Jagoannya Ditaklukkan Zohran Mamdani
Amerika, selalu tampil perkasa. Keperkasaan itu hanya tersaji dalam sebuah sinema. Amerika sangat percaya diri, dalam hal memamerkan alutisita. Namun Amerika loyo, ketika mempertahankan kemajemukannya. Bullying antar ras dan diskriminasi warna kulit, masih menjadi problem serius dalam kehidupan warganya. Maklum Amerika terbentuk dari pertumpahan darah. Apache, Cherokee, Comanche, hingga suku Indian yang lain, menjadi saksi bisu lahirnya negara adidaya tersebut.
Ketika berbicara tentang demokrasi, Amerika lah yang menjadi empunya. Kedewasaan Amerika dalam berdemokrasi patut diacungi jempol. Walaupun Amerika sangat serius, meramu demokrasi yang dilarutkan dengan liberalisme. Akan tetapi ramuan tersebut belum menjadi formula yang tepat. Banyak rakyat Amerika, yang berharap hidup tentram dan nyaman. Persekusi terjadi setiap hari. Acapkali pelajar minoritas, dijejali bullying oleh teman – temannya. Tidak dapat dijamin bahwa, Amerika total dengan demokrasi. Amerika sangat lemah dalam merawat kemajemukannya.
Obama terpilih menjadi presiden Amerika kulit hitam pertama. Ini menjadi titip nadir, Amerika mengangkat kemajemukan setinggi-tingginya. Namun kemajemukan kembali memudar. Dikala Trump dengan gigih mengoceh, bahwa imigran merupakan problematik akut di Amerika. Ada satu diantara imigran yang kini memiliki kekuatan politis seperti kristal. Betul, itulah Zohran Mamdani. Politisi asal Demokrat, sebagai Walikota terpilih New York lima tahun kedepan.
Menjadi imigran di Amerika, selalu hidup dalam kungkungan harapan. Apalagi seorang muslim. Zohran Mamdani seakan menghantam dan membredel paradigma tersebut. Sosok muslim yang menjadi Walikota New York. Zohran Mamdani merepresentasikan kekuatan muslim.
Kemenangan Zohran menjadi kilas balik. Pasca tenggelamnya kredibilitas muslim, seiring runtuhnya World Trade Center. Dibalik tragedi 9/11 Amerika Serikat sempat memandang sinis umat muslim. Itu telah terjadi 24 tahun lalu. New York telah berbenah, komplek gedung pencakar langit di Manhattan tersebut kembali dibangun. Konstruksinya bercampur dengan semangat kemajemukan. Umat muslim dirangkul oleh umat beragama mayoritas di sana. Hasilnya Zohran Mamdani menjadi pemimpin kota tersebut. Zohran seakan menjawab “America Dream “ yang sesungguhnya. Zohran kembali mengingatkan, ujung dari demokrasi adalah kemanusiaan. Dalam menggapai mimpinya, Amerika harus bertumpu pada kemajemukan. Bukan hanya membesarkan tarif resiprokal. Apalagi menguatkan dominasi oligarki, yang menjadi benalu di gedung putih.
Memang tidak dapat dipungkiri, New York merupakan ibukotanya dunia. Dahlan Iskan pernah menulisnya, di dalam catatan hariannya. Mulai saat ini Zohran Mamdani yang memegang kendali kota tersebut. Berharap akan sebuah kejutan, kumandang azan (tidak malu – malu) bergemah lima kali dalam sehari. Terdengar hingga menyelimuti New York Times Square. Tapi apalah semua itu, kemanusiaan tetap di atas sebuah makna perjuangan.
Assalamu’alaikum Zohran ! Dari masjid ke masjid, gereja ke gereja, sinagog ke sinagog. Mimpi Amerika akan diraih sepenuhnya.


