Dunia Sudah Kecanduan Barang Dengan Harga Bersahabat, Tak Terkecuali Kado Natal
Estetika Natal identik dengan Eropa dan Amerika. Pohon cemara, lampu – lampu, salju tebal, dan tungku perapian. Semuanya dapat kita lihat dalam sinema ataupun film animasi bertema Natal. Hangatnya momen Natal, juga ditunjang dengan bertukar kado. Ataupun pemberian kado dari kakek dan nenek untuk cucu, orang tua untuk anak, hingga paman dan bibi untuk keponakan. Kado tersebut dipersembahkan atas dasar sikap dan perilaku terpuji.
Bocah – bocah Kristen dan Katolik percaya, bahwa kado Natal yang didapat. Diperoleh dari kemuliaan hati Santa Claus. Santa Claus tiba pada malam Natal, menunggangi kereta yang ditarik beberapa ekor rusa. Tumpukan kado tertata rapi di bagian belakang kereta. Setiap kadonya tertulis nama dan alamat, memastikan kado yang diberikan tidak akan tertukar.
Santa Claus berangkat dari kediamannya di wilayah lingkaran arktik. Dengan membawa jutaan kado, Santai Claus bersemangat menerbangkan keretanya dari Kutub Utara. Setiap kado yang didapat, disesuaikan dengan taraf kebaikan setiap penerima. Ironinya dekorasi dan kado yang membangun suasana Natal, bukan dari Kutub Utara. Melainkan dari pabrik yang berdiri di Negeri Tirai Bambu.
Data kepabeanan mencatat, Tiongkok mengekspor perlengkapan Natal senilai 5,9 Miliar USD. Angka fantastis ini, mencaplok market shere hingga 80% pangsa pasar dunia. Pelbagai negara mayoritas berpenduduk Kristen dan Katolik. Menjadi jujukan Tiongkok dalam mendistribusikan pernak-pernik dan dekorasi Natal.
Keseluruhan produk bertema Natal tersebut, diproduksi di Yiwu, Provinsi Zhejiang, China. Bukan di Kutub Utara, Yiwu merupakan desa Natal sebenarnya. Di Yiwu tidak ada salju ataupun pohon cemara yang tumbuh dari tanah. Disana hanya dapat menemukan pabrik yang memproduksi pernak-pernik dekorasi Natal. Serta ribuan kontainer, yang siap disebarkan ke penjuru dunia menjelang Desember.
Pertengahan tahun, Juni hingga Juli pabrik – pabrik di Yiwu mulai sibuk memproduksi pernak-pernik dekorasi Natal. Dengan berbagai jenis dan bentuk produk. Dari olahan plastik cair dan kain. Semua dibentuk sesuai kebutuhan perayaan Natal. Jika produksi telat hingga Agustus, dipastikan rak – rak toko pernak-pernik Natal akan kosong.
Dari representasi ini, Tiongkok benar-benar memahami momen kelahiran sang juru selamat. Yang dapat menyelamatkan ekonomi negaranya. Dunia memang telah kecanduan barang dengan harga terjangkau. Dari bola hias, bintang, hingga topi santa yang digantung di pohon Natal imitasi. Semuanya diproduksi di Yiwu. Bayangkan jika sanksi tarif impor resiprokal begitu membebani Tiongkok. Sehingga praktik embargo Tiongkok menyasar pada negara pemberi sanksi. Maka apa daya, jika perayaan Natal di negara tersebut akan kehilangan kemeriahannya.


