Borobudur kembali memekik eksistensinya. Hal ini bukan sekedar dijadikan panggung sesaat. Melainkan juga menjaga fungsionalistasnya sebagai ruang spiritual dan warisan dunia. “Borobudur in Harmony” sebuah konsep konkrit, Borobudur diperkaukan sebagai living heritage. Konsep ini mengukuhkan bahwa Borbudur merupakan ruang spiritual. Martabatnya harus dijaga. “Borobudur in Harmony” digagas untuk menepis paradigma, sebuah monument yang hanya untuk difoto.
“Borobudur in Harmony” dirancang sebagai agenda tahunan. Merangkum tiga pilar dalam gelarannya. Conference (Mind), Festival (Body), dna Community Engagement (Spirit). Konferensi digelar secara global, masih dalam tahap pengusulan. Partispan merupakan para ahli, akademisi, seniman, hingga praktisi internasional. Dari ketiga pilar tersebut, ada keterikatan yang kuat dalam penyelenggaraaanya. Konferensi melahirkan gagasan. Festival memberikan pengalaman nyata. Komunitas menjaga dampak jangka panjang.(red)
