Elektabilitas Trump Semakin Merosot, Obama Dengan Cermat Mengambil Momentum
Halloween dirayakan dengan khidmat, di Gedung Putih. Layaknya open house, bersama first lady, Donald Trump menyambut para tamu yang hadir. Tidak ada kostum khusus bagi Trump. Pada momen tersebut, Trump berpakaian sebagai Donald Trump. Formalitas pada umumnya, setelan jas, dengan dasi warna biru, akan tetapi tidak mengenakan topi “MAGA”. Padatnya jadwal sebagai orang nomor satu di Negeri Paman Sam. Tidak ada waktu, bagi Trump untuk memikirkan kostum. Dalam perayaan Halloween tahun ini. Trump menyempatkan hadir, diselah-selah jadwal padat kampanyenya. Menjelang pemilu sela Amerika Serikat 2026.
Bukan Trump jika ocehannya tidak mengandung kontroversi ataupun konfontrasi. Berlangsungnya kampanye yang dihadiri Trump, di Port Huron, Michigan. Jelas di sana Trump membawa misi kesuksesan Partai Republik. Demi memuluskan kepentingannya untuk Pilpres 2028 mendatang. Trump hadir mendukung kandidat Partai Republik. Mike Roger. Dalam kampenye tersebut, hadir pula rapper wanita kenamaan Nicki Minaj.
Dalam pidatonya, Trump sempat menyinggung fisik Nicki Minaj. Pesan yang mengandung seksisme, dilontarkan si pemilik properti mewah “Mar a Lago” itu. Komentar tentang bokong Nicki Minaj, dibalut dengan lelucon. Ia juga memastikan Nicki memakluminya. Trump mengajak Nicki untuk menaiki panggung. Dia meminta Nicky untuk berdiri, mempersilahkannya menyampaikan sebuah bentuk dukungan. Dalam menentukan pandangan politik, Nicki Minaj memang telah lama menjadi pendukung Trump.
Pelbagai lembaga survei di Negeri Paman Sam, menyatakan dukunga publik terhadap Trump merosot. Teruma Retures, lembaga survei dengan reputasi terbaik di Amerika Serikat itu. Menyatakan bahwa dukungan masyarakat melemah, ditunjang dengan penolakan yang melangit. Artinya tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump sangat lemah.
Momentum ini dimanfaatkan secara konkret oleh Partai Demokrat. Sebagai rival abadi, Partai Demokrat secara gencar memungut kepercayaan konsituen. Barrack Obama, megambil langkah strategis dalam menguatkan popularitas Partai Demokrat. Melalui kredibiltas tokoh – tokoh politik dibaliknya. Terutama Abdul El-Sayed. Secara hiptesis akan menjadi calon kuat Demokrat pada pilpres 2028.
Obama tampak wibawa menjadi juru utama dalam merealisasikan kampenye Partai Demokrat. Sangat berbeda dengan Trump. Obama menggunakan kemampuan orasinya, untuk memulihkan harapan – harapan rakyat. Tanpa sekali menyerang kebijakan Trump. Akan tetapi menyerukan sikap menentang peperangan yang dilakukan Trump.
Nyantanya elektabilitas Trump semakin merosot. Jatuh tepat pada bokong Nicki Minaj. Naasnya Trump jatuh bukan pada permukaan yang keras. Sekeras kapalanya.


