Ingat Sengkuni Bisa Saja Mengendalikan Tata Wilayah Kota, Tapi Tidak Dengan Keseniannya
Seni tidak bisa dikapitalisasi. Seni pun juga tidak dapat dipolitisasi. Namun seni bisa menyuguhkan pesan politis. Tentunya juga bisa mempengaruhi laju kapitalisasi. Ketika berbicara seni, kita berdialektika tentang kompleksitas dan estetika. Seni layak dinikmati ketika perut dalam kondisi kenyang. Sebuah mitos, jika pemikiran kita percaya, bahwa kapitalisasi dapat membuat rakyat bisa kenyang.
Namun seni wajib dinikmati ketika pemikiran kita jernih. Sebuah fakta, jika pemikiran kita tidak terhimpit oleh politik praktis. Hal yang berbeda jika kita menikmati seni di Surabaya. Banyak keheranan, apa Surabaya sudah mulai memperbaiki hubungannya dengan seni.
Tiga tahun ARTSUB. Berlangsung dengan cerita masing-masing pada setiap tahunnya. Tahun pertama, ARTSUB hadir bukan sebagai gambling. Namun membawa misi irigasi terhadap seni. Surabaya menjadi kota yang tandus akan kesenian. Kebijakan publik melahirkan jarak antara pemerintah dan kesenian. Ruang tumbuh dan berkembangnya para seniman. Dialih dayakan menjadi gedung perwakilan rakyat.
Seniman pada era itu, terombang-ambing dikala ruang ekspresinya berlangsung secara nomaden. Ini merupakan puncak paceklik seni di kota pahlawan. ARTSUB hadir, dengan memboyong sejuta harapan. Bahwa seni, masih memiliki tajih. Demi berjuang, merajut estetika untuk kota Surabaya.
Tahun ke dua ARTSUB, mendapat tekanan. Aksi masa di Jakarta, meluber hingga ke Surabaya. Demontrasi besar – besaran, berujung merusak fasilitas umum. Tidak luput juga, gedung Grahadi menjadi tujuan arena aksi. Balai Pemuda menjadi venue ARTSUB 2025. Hanya berjarak ratusan meter dengan Grahadi. Demi alasan keamanan, ARTSUB 2025 dihentikan.
Menginjak tahun ke tiga. ARTSUB mendapat banyak dukungan. Komplek Balai Pemuda kembali dipilih menjadi venuenya. “Border, Threshold, and Beyond”, merupakan tema yang diusung. ARTSUB 2026 menjadi pameran yang terbesar, dibandingkan dua tahun sebelumnya. Seni kontemporer menjadi sajian matang dalam pameran ini. Ditunjang dengan rangkaian program talkshow dan workshop.
ARTSUB sangat layak, dinilai sebagai irigasi dalam seni. Mengairi Surabaya yang sebelumnya menjadi tanah tandus akan kesenian. Benih – benih yang ditanam dua tahun lalu, mulai tumbuh dan tampak berseri. ARTSUB memiliki beban yang cukup berat. Dibanding dengan pameran seni yang terselenggara di Jakarta, Bandung, apalagi Jogja.
ARTSUB mengembalikan budaya arek dalam memahami seni. Selebihnya menghormati sebuah proses yang melahirkan estetika. ARTSUB hadir menjadi refleksi dalam merebut kembali ruang publik Surabaya. Yang kini dijarah akan visualisasi dengan pesan kapitalistik. ARTSUB juga menjadi ruang reunifikasi antara seni dan kebijakan politik.
Surabaya harus belajar dari ARTSUB. Mungkin lebih bijak, jika keindahan kota tidak harus seratus persen untuk taman. Keseimbangan harus terjaga, antara taman, ruang seni, dan ranah kapitalis. Tiga tahun artsub, bukti irigasi untuk mengairi tanah yang tandus akan kesenian.


