Bukan Eranya Masuk Gorong – Gorong
Orangutan digandeng Wapres. Sebuah momen yang mengesankan. Lengkap sudah dibingkai dengan narasi empati. Jika pun orangutan memiliki hak suara. Primata tersebut, bukan hanya sebatas memilih. Tetapi juga sangat mendukung aksi mas Wapres. Dikala pejabat ramai – ramai sibuk memadamkan Karhutla. Gibran Rakabuming melakukan manuver yang unik.
Bersama para relawan dan dokter hewan, Gibran terbang dari Jakarta. Ia mengunjungi pusat rehabilitasi Orangutan di Palangka Raya. Bukan hanya hadir untuk memantau aktivitas karantina. Gibran juga memastikan penanganan dampak karhutla terhadap satwa.
Gibran mengambil garis start yang tepat. Dikala kebijakan politik hadir untuk ekologis. Gibran bukan sekadar Wapres, tetapi patron politik yang kuat. Menghadirkan kesejahteraan rakyat, memang menjadi modal yang empiris bagi politikus. Dalam sebuah pribahasa “Sekali dayung dua pulau terlampaui”. Gibran secara konkret, menelaah pribahasa tersebut.
Ia sukses menjaring simpati berlipat ganda. Bagi rakyat dan rakyat pecinta satwa. Orangutan menjadi objek yang tepat. Ditunjang dengan aksi menggandeng Orangutan. Seakan menambah daya pikat. Khususnya bagi publik serta netizen yang membanjiri respon positif.
Jika meminjam teori komunikasi politik Harold D. Lasswell. Bukan hanya menyampaikan pesan secara lisan. Gibran memupuk retorika yang cemerlang. Aksi nyata dengan kepeduliannya terhadap satwa. Menjadi bumbu yang tepat. Membuat hidangan yang berupa pesan tersebut. Terasa nikmat saat dikonsumsi oleh publik. Lisan dan aksi, paket lengkap yang membuat momen tersebut memiliki nilai utuh.
Politik – Ekologis secara mahsyur, menjadi fundamental dalam relasi kebijakan politik, sistem ekonomi, dan dinamika krisis lingkungan. Peran politik dalam lingkup ekologis, acapkali sebatas greenwashing (pencitraan). Khususnya di negeri ini, menanam bibit pohon, seruan bijak dalam menggunakan energi, hingga penerapan ekonomi hijau. Semua hanya normatif, namun belum maksimal dalam melegitimasinya.
Ekologi bukan hanya diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun ada flora dan fauna yang turut andil mendapatkan hak. Dari momen tersebut, Gibran secara nyata menampakkan peran negara. Sebagai bentuk kepedulian dalam menjaga keberlangsungan ekosistem. Menggandeng orangutan rupanya menjadi intrik politik yang menyesuaikan zaman. Entahlah Gibran belajar dari mana. Bisa jadi berguru pada pria yang dulu saat menjabat, gemar memasuki gorong-gorong.
Aroma transformasi kepemimpinan mulai terendus. Apa yang anda fikirkan, mungkin serupa dengan apa yang saya tebak.


