Simpang Siur Londo Ireng Yang Bergerak Dalam Bayang – Bayang
Politik dan ekonomi saling berebut menjadi penglima. Padahal keduanya memiliki tugas dan porsi kinerja masing-masing. Dalam koridor ekonomi. Prabowo sukses merilis panda bond. Banyak investor Tiongkok yang meliriknya. Sedangkan dalam gelanggang politik. Prabowo juga sukses memberikan kelakar. Tentang tiga kancil yang bahaya jika bertemu. Definisi tiga kancil anda tau sendiri. Ada yang pintar mengelabui buaya. Ada juga yang lihai mencuri ketimun. Kancil – kancil itu, cocok sebagai refleksi cerita dan sebuah lagu.
Pencapaian pertumbuhan ekonomi makro rupanya berhasil. Namun dalam tatanan mikro, keberhasilannya seperti bayang – bayang. Begitupun stabilitas politik, terasa konstan. Oposisi cenderung pasif. Akan tetapi dalam hirarki akar rumput, stabilitas politik yang harusnya terasa, hanya seperti bayang – bayang. Politik yang seharusnya berjuang untuk konstituen. Bertransformasi terbalik, konstituen yang harus melayani politik. Keberhasilan pencapaian ekonomi yang tumbuh. Begitu pula dinamika politik yang stabil. Hanya tertuang dalam hasil survei kepuasan. Puasnya pun seperti bayang – bayang.
Entah kuesioner survei tersebut, dilimpahkan pada rakyat yang sebalah mana. Rakyat yang fasih akan bertutur untuk perbaikan sistem. Atau rakyat yang hidup dalam bayang – bayang. Jika rakyat yang berpartisipasi pada survei tersebut, sering mendengar album “Menari Dengan Bayangan”. Pasti akan berbeda hasilnya. Bagi yang belum tau, “Menari Dengan Bayangan” merupakan tajuk dari sebuah album musik. Karya dari sebuah band, Hindia namanya. Bagi separuh milenial hingga mayoritas gen z, album ini memiliki daya tarik tersendiri.
“Menari Dengan Bayangan” memuat dua belas tembang. Deretan tembang, yang menceritakan tentang keresahan – keresahan hidup secara personal dan komunal. “Menari Dengan Bayangan” seakan menjadi pemantik, bagi para pendengar yang berfikir kritis, dalam menakar kualitas hidup saat ini. Berkenaan dengan lesuhnya ekonomi, dan merosotnya fungsional politik. Menjadi momok yang selalu membayangi.
Jika album “Menari Dengan Bayangan” sebagai pemantik. Maka Kabinet Bayangan sebagai implementatornya. Kabinet Bayangan yang digadang-gadang, memiliki peran sebagai oposisi absolut. Banyak harapan yang bertumpu. Harapan akan keadilan, harapan akan pendidikan yang layak, dan harapan hidup yang sejahtera. Harapan – harapan ini, seakan membayangi kinerja Kabinet Bayangan. Bagi anda yang belum memahami apa itu Kabinet Bayangan. Yakni semacam lembaga informal yang bergerak atas dedikasi. Menaungi total 14 menteri dan 1 juru bicara. Kompeten, berintegritas, kritis berpihak untuk rakyat, pastinya bukan atas relasi koncoisme. Itu lah indikator dalam menjaring jabatan kementrian Kabinet Bayangan.
Bukan hanya berperan pada ranah check and balance. Seperti pada umumnya, oposisi. Kinerja Kabinet Bayangan, akan lebih serius dan konsisten. Terutama akan hal yang menjadi kebutuhan mendasar masayarakat. Yang terus dikawal, sebagaimana memberikan kebijakan alternatif. Jika terdapat kebijakan pemerintah, yang berlangsung kurang ideal dan bersifat benalu pada defisit negara. Kabinet Bayangan, keberadaannya juga belum tentu dihinggapi “londo ireng“. Ireng dalam bahasa Jawa berarti hitam. Hitam identik dengan warna bayangan. Semoga kinerja Kabinet Bayangan, kelak jika meraih kesuksesan. Tanpa adanya indikasi tuduhan “londo ireng” dibaliknya. Saya pun beranggapan dan berharap. Para menteri dalam Kabinet Bayangan, tidak ada leluhurnya yang berkomplot dengan londo saat era penjajahan.


