Nostalgia Pada Masa Pergulatan Lekra dan Manikebu
ARTJOG 2026, dibuka 19 Juni 2026. “Ars Longa : Generatio” menjadi tajuk yang menghimpun dialogis, interdisipliner, dan lintas generasi. Kontroversi menjadi pembuka ARTJOG 2026. Bukan perkara karya yang disajaikan, atau perizinan yang belum tuntas. Melainkan menelan modal yang dituding memboyong anomali. Strategic partner ARTJOG 2026, menjadi pemicu kontroversi ini. BRI, Pertamina, dan Didit Hediprasetyo Foundataion. Menjadi donatur dibalik berlangsungnya ARTJOG 2026. Hampir keseluruhan partnership, merupakan badan usaha dalam naungan pemerintah. Satu diantaranya berafiliasi langsung dengan orang nomor satu di Indonesia. Publik mulai bertanya – tanya. Adapun yang kritis dalam sebatas pemikiran. Aksi melahirkan sebuah tulisan, hingga aksi monolog didepan venue ARTJOG 2026.
Bukan perkara kebetulan, jika badan usaha pemerintah hadir menunjang ARTJOG 2026. Lembaga – lembaga tersebut, memiliki peran yang diriangkas dalam satu papan sponsorship. Kapital ekstraktif negara diwakili Pertamina. BRI menjadi legislasi perbankan milik negara. Semantara keberadaan dinasti politik melalui Didit Hediprasetsyo Foundation. Sejauh ini publik mulai memahami, transaksi pertukaran modal dibalik ARTJOG 2026. Sponsorship menggelarkan karpet merah. Kurator menyusun tema yang menyesuikan proyeksi dari pemodal.
“Jika politik itu kotor, puisi (seni) yang membersihkannya“. Apa yang dikatakan John F. Kennedy benar adanya . Kalimat tersebut, dapat ditelaah dalam memandang polemik ARTJOG 2026. Presepsi antar seniman memang berbeda. Apalagi si pemerhati dan penikmatnya. Lahirnya multipresepsi yang menuntut dibalik esensial ARTJOG 2026. Pelbagai komentar, menilai bahwa spirit ARTJOG terasa nihil pada tahun ini. Dalam seni dan pergerakannya, pro dan kontra selalu menyelimuti. Teringat pada masa pergulatan seni dalam era demokrasi terpimpin.
Lekra, begitu kuat dengan panji – panjinya. Seni sebagai medium perlawanan. Lekra, akronim dari Lembaga Kebudyaan Rakyat, masa itu memiliki taring yang tajam. Afiliasi dari Partai Komunis Indonesia. Sukrano, sebagai presiden kala itu lebih condong dan memberikan karpet merah untuk Lekra. Kontra ideologi pada seni sebagai alat politikpun mulai tumbuh. Manikebu terbentuk. Manifes Kebudayaan, hadir menentang dominasi Lekra. Manikebu bergerak pada rana idealisme seni yang begitu totalitas. Kemanusiaan merupakan sayapnya. Bergerak tanpa didikte oleh ideologi politik apapun. Dua kubuh budayawan dan seniman, bersinggungan hingga satu dekade lamanya. Perselisihan ini pun surut, saat peristiwa Gerakan 30 September (G30S) berlangsung.
Seni dan politik, memang sangat terikat. Relasinya melebihi dari kata “romantis”. Jika kita tarik dalam pergulatan Lekra dan Manikebu. Keduanya sama – sama berpihak, dibalik konsep mempertahankan ataupun merebut kekuasaan. Orde Lama, menjadikan Lekra sebagai kroni. Orde Baru menumpas Lekra, Seakan-akan memberikan ruang gerak yang utuh kepada Manikebu.
Fenomena politisasi dibalik ARTJOG tahun ini, semoga tidak menjadi nostalgia akan kesenian yang diadu domba. ARTJOG bukan kambing hitam. ARTJOG tetap merepresentasikan seni yang berkualitas dan istimewanya Jogja. Harunysa polemik yang terjadi bukan perkara modal dibalik keberlangsungan ARTJOG. Akan tetapi jika venue ARTJOG mendapat giliran pemadaman listrik.
Ingat, jangan menunda-nunda pekerjaan (termasuk menyelesaikan sebuah karya seni). Karena anda tidak tau kapan listrik tiba-tiba padam.


