Masih Ingat Dengan Tampang Boyolali, Kini Diperjuangkan Nasibnya
Presiden Prabowo Subainto kebali joget di atas panggung. Mengingatkan kita pada momen kampanyenya. Berkat joget, Prbowo dapat mengantongi 58,6% suara. Kali ini Prabowo joget, begitu energik. Hingga melepas pakaian safarinya. Dilempar dihadapan ribuan para buruh. Sama halnya seperti yang dilakukan pada peringatan Hari Buruh 2025. Tiak berbeda dengan tahun sebelumnya. 2 Mei 2026, peringatan May Day, buruh memedati Monumen Nasional. Dari pantauan udara televise nasional, buruhyang hadir terlihat menyemut. Menantikan pidato Parbowo yang khas “berapi – api”. Walaupun diselingi dengan kelakar “Gue Presidennya”. Hingga respon para buruh yang terkesan lupa breafing terhadap kebermanfaatan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Deretan kado yang dipersembahkan Parbowo untuk para buruh. Disiapkan secara spesial. Mulai dari ratifikasi konvensi International Labour Organization. Hingga potong tarif Transportasi Online (Ojol) hingga menjadi 8%. Dari sebelumnya 10%. Prabowo memastikan kesejahteraan pengemudi harus terpenuhi. Aplikator wajib patuh pada Negara. Patuh dalam hal merealisasikan perlindungan pekerja mitra pengemudinya. Keadilan harus ditegakkan. Hal ini tertuang sebagai komitmen Prabowo. Potongan tarif harus 8%.
Regulasi potongan 8% pun, direalisasikan dalam Peraturan Preiden (Perpres). Langsung diteken Prabowo. Pemasukan Ojol terdongkrak 92%. Skema pembagian ini, disambut positif oleh pengemudi Ojol. Sebaliknya palikator merasa gusar. Kekhawatiran mulai menguak, akan berpotensi pada kenaikan tariff konsumen. Jika realisasi Perpres ini berhasil. Maka keseimbangan ekonomi akan tumbuh. Antara aplikator dan mitra pegemudi Ojol.
Menginjak Januari 2026 lalu, Zohran Mamdani juga melakukan tindakan tegas. Atas perlindungan pengemudi Ojol di New York. Zohran menggugat aplikator yang melanggar hak pengemudi. Bersama Depatermen Perlindungan Konsumen dan Pekerja (DCPW). Ia melayangkan tuntutan hokum, atas perusahaan yang enggan mematuhi standart upah minimum.
Zohran Mamdani memberi ketegasan pada Juan Pablo selaku CEO MotoClick. Aplikasi serupa Gojek atau Grab kalau di Indonesia. Dalam realisasi pengupahan, MotoClick secara gamblang mencurangi mitra pengemudinya. MotoClick dengan vulgarnya melanggar aturan upah minimum yang melingkupi Undang – Undang Pekerjaan Pengiriman Kota. Zohran bersikukuh mendorong aplikator beserta CEOnya. Segera mengembalikan hak bagi para mitra pengemudinya. Jika tidak dilaksanakan, ma izin operasi di New York akan dibekukan.
Dalam meneggakkan keadian perlindungan pegemudi Ojol, Prabowo dan Zohran memiliki komitmen yang sama. Namun skema yang diperjuangkan sedikit berbeda.
Prabowo sangat hafal, tebang “Internasionale”. Terbukti engan mengepalkan tangan, berdendang bersama para buruh. Lantas apakah Prabowo cocok dijuluji presisen sosisalis ? Disatu sisi, Zohran Mamdani belum tentu hafal tembang tersebut. Padahal ia mendapat julukan Walikota “Sosialis” New York. Ibukotanya dunia.


